Berharap kosong nampaknya hanya menghantarkan jiwa yang rentan ini ke tempat paling hina. Bernama Depresi.
Sepertinya jalan keluar classic adalah salah satu solusi yang paling tepat. Pasrah.
Nampaknya sikap pasrah bukan sikap siap kalah. Namun, sikap menjadi pemenang.
Ini sekarang bukan soal perlombaan siapa pemenang dan kalah. Ini soal “ceritamu” atau “ceritaku”. Ini soal “skenariomu” dan “skenarioku.” Bukan soal “skenario kita”
Karena “skenario” itu hanya tercipta satu untukmu… dan satu untukku. Hanya ada saat di mana, kamu… tertulis dalam “skenarioku” dan sebaliknya, namun itu semua bukan garansi bahwa “skenario” itu milik kita bersama
A last paragraph will be written but a new chapter is sure to follow
(Source: accidentaldisneylove, via pretzelandbagel)
Suara hati memanggil tuk kembali
Kembali bersama-sama denganmu
Senyum manismu
Surga di bumi
Membawaku kembali
Deburan ombak dan butiran pasir putih
Bagaikan mutiara yang menari-nari
Senyum manismu
Surga di bumi
Membawaku kembali
Ikuti iramaku
berdendanglah bersamaku
menarilah denganku
aku di sini
engkau di sana
ayo kembali ke timur
Paduan suara tifa dan tarianmu
alunan irama tropikal memanggilku
senyum manismu
surga di bumi
membawaku kembali
You can feel if they are singing with heart wholly when your tears come out and you feels warm in your heart
Entah bagaimana perasaan beberapa tuts piano yang tak pernah disentuh,
samat-samat kehilangan nada.
Ada beberapa tuts di kepalaku.
Memainkan melodi yang sama.
Bertubi-tubi menempa hati.
Berkali-kali menyayat nadi.
Sudah saatnya kucari not baru dengan kunci yang tak sama,
partitur yang sederhana,
namun ketukanmu yang menjadikannya sempurna.
(Source: sadgenic)
Obsesi…
a medicine…